Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Minggu, 01 Januari 2012

Mathematical Thinking Across Multilateral Culture

Kesimpulan Membaca

Bertukar pandangan dan pemikiran tentang matematika adalah hal yang dibutuhkan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, pertumbuhan perekonomian dan pengembangan perekonomian anggota APEC. Berdasarkan pada rapat menteri Pendidikan para anggota APEC ke-tiga yang diselenggarakan 29-30 April 2004 di Santiago tentang prioritas dalam aktivitas- jaringan-masa depan untuk tujuan stimulasi pembelajaran dibidang Matematika dan ilmu pengetahuan, maka dibuatlah suatu rancangan kegiatan oleh APEC yang bekerjasama dengan Tsukuba University of Japan dan Khon Kaen University of Thailand brupa kolaborasi studi untuk inovasi belajar mengajar Matematika dari berbagai kultur budaya yang berbeda. Kegiatan ini membahas mengenai ide dan cara berpikir Matematika.
Pemikiran matematika adalah dasar bagi berbagai macam tipe berfikir. Dengan mempelajari matematika siswa dapat belajar tentang logika dan cara berfikir yang rasional. Selanjutnya akan dibahas mengenai beberapa karya dari para pemikir di dunia pendidikan berdasarkan pada berbagai macam konteks dan budaya untuk memberikan pandangan tentang pemikiran matematika.
1. Konteks Orang Australia: Karya Stacey Kaye
Dalam konteks orang Australia, Stacey,K mengungkapkan bahwa guru harus memahami bahwa untuk dapat menyelesaikan masalah dengan matematika dibutukan kemampuan dan kecakapan termasuk diantaranya: memiliki kemampuan matematika yang memadai, berfikir secara umum, pengetahuan tentang strategi heuristik, kepercayaan dan tingkah laku yang baik, kapribadian, dan kemampuan untuk menyampaikan solusi.
2. Konteks Orang Inggris: Karya David Tall
David Tall mengungkapkan sementara guru berusaha meningkatkan prestasi dalam tes di samping itu juga harus mengembangkan realisasi dari prosedur latihan yakni membentuk cara berfikir matematis yang kuat.
3. Konteks Orang Taiwan: Karya Fou Lai Lin
Fou Lai Lin membuktikan bahwa kegiatan mengira atau menerka dalam pemikiran matematika merupakan proses yang dibutuhkan dalam penyelesaian masalah, dan mengembangkan kemampuan membuktikan.
4. Konteks Orang Jepang: Karya Katagiri
Katagiri menegaskan bahwa kemampuan yang paling penting yang dibutuhkan oleh seorang anak untuk bertahan di masa sekarang maupun di masa yang datang bukanlah kemempuan untuk menjalankan tugas dan perintah dengan benar dan cepat tetapi lebih kepada menetukan sendiri apa yang harus mereka lakukan.
5. Konteks Orang Singapura: Karya Yeap Ban Har
Yeap Ban Har menggambarkan bahwa di Singapura, pendidikan mempunyai fungsi ekonomi. Pendidikan mempersiapkan siswa untuk mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja.
6. Konteks Orang Malaysia: Karya Lim Chap Sam
Lim Chap Sam mempelajari bahwa di dalam konteks orang Malaysia ada 3 komponen utama pemikiran matematika, diantaranya adalah: pengetahuan matematika, kegiatan metal dan perkiraan.
7. Konteks Orang Indonesia: Karya Marsigit
Dalam konteks Indonesia, tujuan pendidikan matematika sekarang ini dan yang masih mendesak adalah untuk membiasakan berfikir matematis dan mewujudkannya dalam tindakan. Hasil pengamatan mengindikasikan bahwa matematika harus diterapkan dalam situasi alami, setiap masalah nyata yang muncul dalam menyelesaikannya diperlukan suatu metode matematis.
Jadi konsep berfikir matematis memiliki banyak makna bagi banyak pemerhati pendidikan matematika karena terkait dengan latar belakang budaya dan tujuan nasional pendidikan negaranya.

0 komentar:

Posting Komentar